Apa Arti Maximum Drawdown dan Bagaimana Dampaknya pada Hasil Investasi?

Published on
Ketika membandingkan investasi, return sering menjadi angka pertama yang dilihat. Semakin tinggi return, semakin menarik pula sebuah portofolio terlihat. Namun, return hanya menunjukkan di mana sebuah portofolio berakhir. Angka tersebut tidak selalu menunjukkan apa yang terjadi sepanjang perjalanan untuk mencapai hasil tersebut.
Sebuah portofolio bisa mencatat kinerja yang menarik dalam jangka panjang, tetapi sempat mengalami penurunan yang sangat dalam di tengah perjalanan. Bagi investor, perbedaan ini penting karena investasi bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang risiko yang harus dihadapi untuk mencapainya.
Di sinilah drawdown menjadi salah satu indikator yang relevan untuk diperhatikan.
Apa Itu Drawdown dalam Investasi?
Drawdown menggambarkan besarnya penurunan nilai investasi dari titik tertinggi (peak) menuju titik terendah (trough) sebelum portofolio kembali pulih. Sederhananya, jika nilai investasi sempat mencapai Rp100 juta kemudian turun menjadi Rp80 juta, portofolio tersebut mengalami drawdown sebesar 20%.
Sementara itu, maximum drawdown menunjukkan penurunan terdalam yang pernah terjadi dalam periode tertentu. Angka ini membantu memberikan perspektif yang tidak terlihat apabila investor hanya membandingkan return. Maximum drawdown dapat menunjukkan seberapa besar tekanan yang sempat dialami sebuah portofolio ketika kondisi pasar memburuk. Semakin dalam drawdown, semakin besar pula kenaikan yang dibutuhkan untuk kembali ke posisi awal.
Sebagai ilustrasi, aset yang turun 10% membutuhkan kenaikan sekitar 11% untuk kembali ke nilai sebelumnya. Namun jika nilainya turun 50%, aset tersebut perlu naik 100% hanya untuk kembali ke titik awal. Karena itu, membatasi penurunan dapat menjadi bagian yang sama pentingnya dengan menangkap potensi kenaikan.
Return yang Sama Belum Tentu Memberikan Perjalanan Investasi yang Sama
Bayangkan dua portofolio yang sama-sama menghasilkan return positif dalam periode tertentu. Portofolio pertama mencapai hasil tersebut dengan fluktuasi yang relatif terkendali. Portofolio kedua menghasilkan return serupa, tetapi sempat mengalami penurunan yang jauh lebih dalam.
Jika hanya melihat return akhirnya, keduanya mungkin terlihat sama menarik. Namun dari perspektif risiko, pengalaman investor di dalam kedua portofolio tersebut sangat berbeda.
Drawdown yang dalam bukan hanya persoalan volatilitas pada layar. Penurunan besar dapat memperpanjang waktu pemulihan portofolio dan membuat investor lebih rentan mengambil keputusan emosional ketika kondisi pasar sedang buruk.
Itulah sebabnya evaluasi kinerja investasi sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “Berapa return-nya?”, investor juga perlu mempertimbangkan “Seberapa besar risiko yang harus dilewati untuk mendapatkan return tersebut?”
Melihat Return dan Drawdown Secara Bersamaan
Perbedaan tersebut dapat terlihat pada performa KayaSmart+ Trimegah Moderat dan IHSG selama satu tahun hingga Juli 2026.
Dalam periode yang sama, KayaSmart+ Trimegah Moderat mencatat return +8,44%, dengan maximum drawdown -7,41%. Sementara itu, IHSG mencatat return -16,68%, dengan maximum drawdown mencapai -41,52%.
Perbandingan tersebut memberikan konteks yang lebih lengkap daripada return saja. KayaSmart+ Trimegah Moderat bukan hanya membukukan hasil akhir yang lebih positif dalam periode tersebut, tetapi juga melewati penurunan maksimum yang jauh lebih terbatas dibandingkan IHSG.
Hal ini menjadi penting terutama ketika pasar mengalami periode volatilitas tinggi. Kemampuan untuk mengelola downside dapat membantu menjaga nilai portofolio sehingga tidak membutuhkan pemulihan yang terlalu besar ketika kondisi pasar kembali membaik.
Mengelola Downside Sama Pentingnya dengan Menangkap Upside
Dalam investasi, sulit untuk menghindari penurunan pasar sepenuhnya. Bahkan portofolio yang terdiversifikasi tetap dapat mengalami fluktuasi. Karena itu, tujuan pengelolaan risiko bukan untuk membuat portofolio tidak pernah turun.
Yang lebih realistis adalah memastikan tingkat risiko yang diambil tetap terukur dan sesuai dengan kondisi pasar serta profil risiko investor. Ketika kondisi pasar mendukung, portofolio dapat mengambil eksposur lebih besar terhadap aset yang memiliki potensi pertumbuhan. Sebaliknya, ketika risiko meningkat, eksposur tersebut dapat dikurangi dan dialihkan ke instrumen yang lebih defensif.
Pendekatan seperti ini membuat pengelolaan portofolio tidak hanya berfokus pada seberapa besar potensi return yang dapat diperoleh, tetapi juga seberapa besar downside yang perlu ditanggung untuk mengejarnya.
KayaSmart+: Bertumbuh dengan Risiko yang Tetap Terukur
KayaSmart+ menggunakan pendekatan alokasi aset yang dinamis dan adaptif terhadap perubahan kondisi pasar. Alokasi portofolio dapat disesuaikan ketika profil risiko dan peluang di pasar berubah. Dengan demikian, portofolio tidak harus mempertahankan komposisi yang sama ketika kondisi yang mendasarinya sudah berbeda.
Pendekatan ini bertujuan untuk mencari keseimbangan antara dua hal: menangkap peluang pertumbuhan ketika kondisi mendukung dan mengelola risiko ketika tekanan pasar meningkat. Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah strategi investasi tidak hanya dapat dilihat dari titik akhirnya. Cara portofolio mencapai return tersebut juga penting.
Return menunjukkan hasil yang diperoleh. Drawdown membantu menunjukkan risiko yang harus dilewati untuk mencapainya. Dengan melihat keduanya secara bersamaan, investor dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai bagaimana sebuah portofolio benar-benar bekerja dalam berbagai kondisi pasar.
DISCLAIMER: Informasi yang disediakan oleh PT. Kaya Lautan Permata (Kaya) memberikan pandangan dan analisis tentang berbagai topik keuangan. Meskipun kami berusaha memberikan informasi yang akurat dan terkini, semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pribadi Anda. Harap dicatat bahwa semua investasi memiliki potensi risiko, dan setiap keputusan investasi yang Anda buat adalah atas kebijaksanaan dan risiko pribadi Anda sendiri.