Inflasi 0,76%, Yield Mulai Stabil! Apa Artinya untuk Investor?

Published on
Januari 2025 mencatatkan angka inflasi hanya 0,76%, terendah dalam 25 tahun terakhir dan jauh di bawah target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5% - 3,5%. Merespons kondisi ini, BI memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke 5,75% guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, pasar obligasi mulai menunjukkan stabilitas. Yield obligasi tenor 10 tahun berada di 6,9%, turun tipis dari sebelumnya. Namun, banyak investor bertanya-tanya, mengapa yield tidak turun signifikan meskipun inflasi rendah dan suku bunga berkurang?
Mengapa Yield Tidak Turun Lebih Dalam?
Secara teori, ketika inflasi turun dan suku bunga dipangkas, yield obligasi biasanya ikut turun. Namun, kali ini koreksi yield hanya terbatas. Ada beberapa faktor yang menjelaskan fenomena ini.
Pertama, ekspektasi pemangkasan suku bunga sudah tercermin dalam harga obligasi sebelumnya. Investor telah mengantisipasi langkah BI sejak akhir tahun lalu, sehingga dampaknya terhadap yield kini lebih terbatas.
Kedua, tekanan eksternal dan arus modal asing ikut mempertahankan stabilitas yield. Investor global masih melihat ketidakpastian di berbagai pasar, termasuk potensi perubahan kebijakan The Fed dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Ketiga, permintaan obligasi tetap tinggi, terutama dari investor domestik yang mencari imbal hasil menarik di tengah suku bunga yang lebih rendah. Dengan permintaan yang kuat, ruang bagi yield untuk turun lebih jauh menjadi terbatas.
Apa Implikasinya untuk Investor?
Kondisi saat ini membuka peluang investasi yang menarik, terutama di pasar obligasi dan reksa dana pendapatan tetap.
Bagi investor obligasi, stabilitas yield memberikan potensi capital gain bagi obligasi dengan tenor panjang. Dengan suku bunga yang cenderung turun, harga obligasi yang sudah beredar bisa meningkat, memberikan keuntungan bagi investor yang sudah lebih dulu masuk.
Bagi investor reksa dana pendapatan tetap, tren stabilitas harga obligasi bisa menjadi peluang untuk memperoleh imbal hasil yang lebih baik. Dengan volatilitas pasar saham yang masih tinggi akibat lemahnya permintaan domestik, investor yang mencari aset defensif bisa mempertimbangkan instrumen pendapatan tetap.
Di pasar saham, tantangan tetap ada. Rendahnya inflasi menunjukkan lemahnya daya beli masyarakat, yang dapat berdampak pada prospek pertumbuhan berbagai sektor industri. Sementara itu, volatilitas global juga masih menjadi faktor yang perlu diperhitungkan sebelum mengambil keputusan investasi di ekuitas.
Saatnya Ambil Peluang dengan Strategi yang Tepat
Dengan yield yang stabil, obligasi tetap menjadi pilihan menarik bagi investor yang ingin memperoleh keuntungan dari pergerakan harga di tengah tren suku bunga yang turun. Reksa dana pendapatan tetap juga bisa menjadi opsi bagi mereka yang ingin memperoleh imbal hasil stabil dengan risiko yang lebih terkendali.
Namun, seperti biasa, strategi tetap menjadi kunci. Jangan hanya menunggu—manfaatkan momentum ini dengan strategi yang lebih cerdas bersama KayaSmart+!
DISCLAIMER: Informasi yang disediakan oleh PT. Kaya Lautan Permata (Kaya) memberikan pandangan dan analisis tentang berbagai topik keuangan. Meskipun kami berusaha memberikan informasi yang akurat dan terkini, semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pribadi Anda. Harap dicatat bahwa semua investasi memiliki potensi risiko, dan setiap keputusan investasi yang Anda buat adalah atas kebijaksanaan dan risiko pribadi Anda sendiri.