Bagaimana Jika Investasi Dimulai di Waktu yang Buruk? Memahami Risiko Maximum Drawdown

Diterbitkan pada
Salah satu kekhawatiran terbesar investor adalah masuk ke pasar pada waktu yang kurang ideal. Bagaimana jika investasi dilakukan tepat sebelum pasar terkoreksi? Bagaimana jika setelah membeli, nilai portofolio langsung turun? Dan berapa besar kenaikan yang dibutuhkan untuk kembali ke nilai awal?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan mengapa menilai investasi tidak cukup hanya dengan melihat return. Investor juga perlu memahami seberapa dalam nilai portofolio dapat turun ketika kondisi pasar memburuk. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihatnya adalah maximum drawdown.
Apa Itu Maximum Drawdown dalam Investasi?
Maximum drawdown menggambarkan penurunan terbesar suatu investasi dari titik tertinggi ke titik terendah dalam periode tertentu. Berbeda dengan volatilitas yang menggambarkan seberapa besar harga bergerak naik dan turun, drawdown memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai tekanan penurunan yang pernah dialami sebuah portofolio.
Ini menjadi relevan ketika timing investasi ternyata tidak ideal. Investor mungkin tidak selalu bisa menentukan kapan pasar akan mencapai puncak atau kapan koreksi akan dimulai. Namun, dengan memahami drawdown, investor dapat melihat seberapa besar penurunan yang pernah terjadi dan risiko yang menyertai perjalanan sebuah investasi.
Semakin Dalam Turunnya, Semakin Besar Kenaikan yang Dibutuhkan
Kerugian dan keuntungan tidak bekerja secara simetris. Ketika investasi turun 10%, misalnya, kenaikan 10% setelahnya belum cukup untuk mengembalikan nilai investasi ke posisi awal. Portofolio yang turun 10% membutuhkan kenaikan sekitar 11% untuk kembali ke titik awal. Jika turun 20%, kenaikan yang dibutuhkan menjadi sekitar 25%. Sementara itu, penurunan 40% membutuhkan kenaikan sekitar 67% untuk pulih.
Mengapa? Misalnya, investasi senilai Rp100 juta turun 40%. Nilainya menjadi Rp60 juta. Untuk kembali dari Rp60 juta menjadi Rp100 juta, investasi tersebut harus bertambah Rp40 juta—atau sekitar 67% dari nilai setelah penurunan. Semakin dalam drawdown, semakin besar pula pertumbuhan yang diperlukan untuk kembali ke posisi sebelumnya.
Karena itu, mengelola downside bukan sekadar tentang membuat perjalanan investasi terasa lebih nyaman. Besarnya penurunan juga berpengaruh terhadap seberapa berat proses pemulihan portofolio setelah pasar berbalik arah.
Profil Agresif Tidak Berarti Harus Turun Sedalam Pasar
Investor dengan profil agresif umumnya memiliki toleransi terhadap fluktuasi yang lebih tinggi untuk mengejar potensi pertumbuhan. Namun, profil agresif bukan berarti setiap penurunan pasar harus diterima sepenuhnya oleh portofolio.
Data hingga 31 Agustus 2026 memberikan salah satu ilustrasinya. Pada portofolio agresif berbasis rupiah, KayaSmart+ Trimegah Agresif mencatat maximum drawdown -6,79%, Pinnacle Agresif -8,39%, dan Henan Agresif -12,09%. Sebagai perbandingan, IHSG mencatat maximum drawdown -41,52%. Pada portofolio agresif berbasis dolar AS, Mandiri USD Agresif mencatat maximum drawdown -7,89%, dibandingkan DJIMI sebesar -19,24%.
Dalam periode pengukuran tersebut, portofolio agresif KayaSmart+ mengalami drawdown yang lebih terbatas dibandingkan benchmark masing-masing. Perbandingan ini juga menunjukkan bahwa label “agresif” tidak hanya perlu dilihat dari potensi return, tetapi juga dari bagaimana risiko dikelola ketika kondisi pasar bergerak berlawanan dengan ekspektasi.
Timing Sulit Diprediksi, Risiko Bisa Dikelola
Menentukan waktu terbaik untuk masuk ke pasar secara konsisten bukanlah hal sederhana. Kondisi ekonomi, suku bunga, geopolitik, valuasi, dan sentimen investor dapat berubah dengan cepat. Karena itu, strategi investasi tidak harus bergantung pada kemampuan untuk selalu mendapatkan timing yang sempurna.
KayaSmart+ menggunakan pendekatan dinamis untuk membantu menyesuaikan eksposur portofolio berdasarkan perubahan kondisi pasar dan risiko. Ketika kondisi mendukung, portofolio dapat mengambil peluang pertumbuhan. Ketika risiko meningkat, eksposur dapat disesuaikan untuk membantu menjaga risiko tetap lebih terukur.
Tujuannya bukan menghilangkan kemungkinan kerugian atau menjamin bahwa portofolio tidak akan mengalami drawdown. Risiko tetap merupakan bagian dari investasi, termasuk pada strategi agresif. Namun, pendekatan yang terukur dapat membantu investor menghadapi kondisi ketika timing investasi ternyata tidak berjalan sesuai harapan.
Jangan Hanya Bertanya Berapa Return-nya
Return tetap menjadi salah satu ukuran penting dalam mengevaluasi investasi. Tetapi angka return saja tidak menceritakan seluruh perjalanan portofolio. Investor juga perlu melihat risiko yang harus dilewati untuk mencapai return tersebut.
Maximum drawdown membantu memberikan perspektif tersebut. Semakin dalam sebuah portofolio turun, semakin besar kenaikan yang dibutuhkan untuk kembali ke posisi awal. Karena itu, menjaga downside tetap terukur dapat menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang.
Pada akhirnya, investor mungkin tidak bisa memastikan bahwa investasi selalu dimulai pada waktu terbaik. Yang bisa dilakukan adalah membangun strategi yang tetap mempertimbangkan risiko ketika kondisi pasar tidak berjalan sesuai ekspektasi. Saat timing tidak ideal, KayaSmart+ membantu portofolio tetap bergerak dengan strategi yang terukur. Saatnya #HidupkanAsetmu bersama KayaSmart+!
DISCLAIMER: Informasi yang disediakan oleh PT. Kaya Lautan Permata (Kaya) memberikan pandangan dan analisis tentang berbagai topik keuangan. Meskipun kami berusaha memberikan informasi yang akurat dan terkini, semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pribadi Anda. Harap dicatat bahwa semua investasi memiliki potensi risiko, dan setiap keputusan investasi yang Anda buat adalah atas kebijaksanaan dan risiko pribadi Anda sendiri.