Di Tengah Tekanan Global, Mengapa Obligasi Indonesia Justru Semakin Diminati?

Published on
Market Outlook | 18–24 Agustus 2026
Pasar global masih ditopang oleh pertumbuhan laba perusahaan dan investasi besar pada artificial intelligence (AI). Namun, memasuki paruh kedua Agustus, investor mulai menghadapi kombinasi yang lebih kompleks: yield obligasi AS tetap tinggi, ekonomi China menunjukkan pelemahan, dan risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda.
Di Indonesia, situasinya justru semakin menarik. Pasar saham masih menghadapi sejumlah tantangan eksternal dan struktural, sementara obligasi pemerintah mulai menunjukkan momentum yang lebih kuat, didukung permintaan investor yang meningkat, inflasi terkendali, dan stabilitas kebijakan Bank Indonesia.
Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa peluang pasar saat ini semakin spesifik pada masing-masing kelas aset.
Yield Tinggi Mulai Menantang Reli Saham Global
Fundamental pasar saham global masih relatif kuat. Pertumbuhan laba mulai meluas di luar perusahaan teknologi raksasa AS, sementara investasi pada AI, semikonduktor, cloud computing, dan data center terus menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama. Namun, investor kini memiliki alternatif yang semakin kompetitif.
Yield Treasury AS yang tetap tinggi membuat obligasi semakin menarik dibandingkan saham, terutama ketika valuasi sejumlah saham teknologi sudah berada pada level premium. Hanya sekitar 3% saham S&P 500 yang menawarkan dividend yield lebih tinggi dibandingkan yield Treasury AS tenor 10 tahun. Artinya, perusahaan dengan valuasi tinggi membutuhkan pertumbuhan laba yang semakin kuat untuk mempertahankan daya tariknya.
Pada saat yang sama, China kembali menjadi sumber kekhawatiran. Produksi industri Juli melambat menjadi sekitar 4,5%, pertumbuhan penjualan ritel hanya sekitar 0,6%, sementara investasi properti turun sekitar 19%. Ditambah ketidakpastian kebijakan The Fed menjelang Jackson Hole dan risiko gangguan minyak dari Selat Hormuz, pasar global masih memiliki fondasi yang konstruktif, tetapi menjadi semakin rentan terhadap volatilitas.
Indonesia Stabil, tetapi Tekanan Eksternal Belum Hilang
Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75%, sementara inflasi Juli tetap terkendali di 2,88% secara tahunan. Kombinasi tersebut memberikan fondasi yang relatif stabil bagi pasar domestik. Namun, tekanan dari sisi eksternal masih perlu diperhatikan.
Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 melebar menjadi sekitar US$12,5 miliar atau 3,3% dari PDB. Kondisi ini berpotensi meningkatkan sensitivitas rupiah terhadap perubahan arus modal global dan dapat membatasi ruang Bank Indonesia untuk melakukan pelonggaran kebijakan secara agresif.
Pasar saham juga masih menghadapi persoalan aksesibilitas global. FTSE Russell mempertahankan pembatasan terhadap perubahan indeks positif setidaknya hingga Desember 2026, sembari menunggu perkembangan terkait transparansi kepemilikan, reliabilitas free float, dan klasifikasi investor.
Dengan demikian, meskipun pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan fundamental perusahaan masih memberikan dukungan, pemulihan saham Indonesia belum dapat sepenuhnya disebut sebagai fundamental re-rating.
Obligasi Indonesia Mulai Mencuri Perhatian
Sinyal yang lebih konstruktif justru terlihat pada pasar obligasi. Lelang SUN pada 18 Agustus menerima penawaran hingga Rp84,76 triliun, meningkat dari Rp70,72 triliun pada lelang sebelumnya. Pemerintah memenangkan sekitar Rp34 triliun dari total penawaran tersebut. Pada saat yang sama, yield SUN tenor 10 tahun bergerak turun menuju 7,10%, menunjukkan membaiknya permintaan terhadap obligasi pemerintah.
Ada beberapa faktor yang mendukung kondisi ini. Inflasi yang masih terkendali mengurangi tekanan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. BI Rate yang dipertahankan pada 5,75% juga memberikan kepastian kebijakan yang lebih baik, sementara yield yang masih relatif tinggi menawarkan tingkat imbal hasil yang semakin menarik bagi investor. Meski demikian, pasar belum sepenuhnya bebas risiko. Investor masih cenderung selektif terhadap tenor dan tetap memperhatikan pergerakan rupiah, arus dana asing, serta arah yield global.
Outlook: Rupiah Menjadi Salah Satu Kunci Berikutnya
Perbedaan kondisi antara saham dan obligasi menunjukkan bahwa pasar Indonesia sedang memasuki fase yang semakin selektif. Obligasi mendapat dukungan dari inflasi terkendali, stabilitas kebijakan moneter, yield yang menarik, dan permintaan lelang yang kuat. Sementara itu, saham masih perlu menghadapi tantangan dari arus dana asing, defisit transaksi berjalan, serta isu aksesibilitas indeks global.
Ke depan, stabilitas rupiah akan menjadi salah satu indikator utama yang perlu diperhatikan. Rupiah yang stabil, inflasi yang tetap terkendali, serta perbaikan arus modal dapat memperkuat momentum obligasi dan secara bertahap meningkatkan kepercayaan terhadap aset Indonesia secara lebih luas. Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah akibat memburuknya kondisi eksternal dapat kembali membatasi fleksibilitas Bank Indonesia dan meningkatkan volatilitas pasar.
Pasar Semakin Selektif, Begitu Juga Peluangnya
AI dan pertumbuhan laba masih memberikan fondasi bagi pasar saham global, tetapi yield tinggi, pelemahan ekonomi China, dan risiko geopolitik membuat investor semakin selektif. Di Indonesia, dinamika yang berbeda mulai terlihat. Saham masih mencari katalis untuk re-rating yang lebih kuat, sementara obligasi mulai mendapatkan dukungan dari permintaan yang meningkat dan kondisi makro yang relatif stabil.
Dalam kondisi seperti ini, membaca pasar bukan hanya tentang menentukan apakah prospeknya positif atau negatif. Yang semakin penting adalah memahami kelas aset mana yang memiliki risk-reward lebih menarik ketika kondisi berubah.
DISCLAIMER: Informasi yang disediakan oleh PT. Kaya Lautan Permata (Kaya) memberikan pandangan dan analisis tentang berbagai topik keuangan. Meskipun kami berusaha memberikan informasi yang akurat dan terkini, semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pribadi Anda. Harap dicatat bahwa semua investasi memiliki potensi risiko, dan setiap keputusan investasi yang Anda buat adalah atas kebijaksanaan dan risiko pribadi Anda sendiri.