Prospect Theory dalam Investasi: Mengapa Kerugian Terasa Lebih Besar daripada Keuntungan?

Published on
Keuntungan 10% dan kerugian 10% terlihat sama besar jika hanya dilihat dari angka. Namun, secara emosional, keduanya bisa terasa sangat berbeda. Bagi banyak investor, rasa tidak nyaman akibat kerugian sering kali jauh lebih kuat dibandingkan rasa puas ketika mendapatkan keuntungan dengan nilai yang sama. Perbedaan respons inilah yang menjadi salah satu konsep penting dalam behavioral finance, yaitu Prospect Theory.
Prospect Theory membantu menjelaskan mengapa keputusan investasi tidak selalu dibuat secara rasional. Ketika keuntungan dan kerugian mulai terasa nyata, emosi dapat memengaruhi cara investor menilai risiko, mengambil keuntungan, hingga menentukan kapan harus bertahan atau mengubah keputusan. Karena itu, memahami perilaku investor sama pentingnya dengan memahami kondisi pasar.
Apa Itu Prospect Theory dalam Investasi?
Prospect Theory menjelaskan bahwa manusia tidak selalu menilai keuntungan dan kerugian secara seimbang. Secara umum, kerugian cenderung terasa lebih berat dibandingkan keuntungan dengan nilai yang sama. Fenomena ini sering dikaitkan dengan loss aversion, yaitu kecenderungan untuk lebih kuat menghindari rasa rugi daripada mengejar keuntungan yang setara.
Dalam investasi, hal ini dapat memengaruhi keputusan dalam banyak situasi. Ketika portofolio naik, investor mungkin merasa ingin segera mengamankan keuntungan karena khawatir harga akan turun kembali. Namun, ketika investasi mengalami kerugian, investor justru dapat menjadi lebih enggan mengambil keputusan karena tidak ingin mengakui kerugian tersebut. Akibatnya, respons terhadap +10% dan -10% tidak selalu seimbang, meskipun secara nominal terlihat serupa.
Ketika Keuntungan Membuat Investor Terlalu Cepat Menjual
Bayangkan sebuah investasi naik 10%. Bagi sebagian investor, keuntungan tersebut dapat menimbulkan dorongan untuk segera menjual dan mengamankan hasil. Keputusan seperti ini tentu tidak selalu salah. Dalam beberapa kondisi, mengambil keuntungan memang dapat menjadi keputusan yang tepat.
Masalah muncul ketika keputusan tersebut terutama didorong oleh rasa takut kehilangan keuntungan yang sudah tercatat, bukan oleh perubahan fundamental, valuasi, atau strategi investasi. Investor akhirnya bisa terlalu cepat keluar dari aset yang sebenarnya masih memiliki prospek menarik. Inilah salah satu contoh bagaimana emosi dapat mengubah keputusan yang seharusnya berbasis proses menjadi respons terhadap pergerakan harga jangka pendek.
Ketika Kerugian Membuat Investor Bertahan Terlalu Lama
Sekarang bayangkan kondisi sebaliknya: investasi turun 10%. Kerugian tersebut sering kali terasa lebih berat. Investor mungkin memilih untuk terus bertahan dengan harapan harga akan kembali ke level awal. Sekali lagi, bertahan bukan selalu keputusan yang salah. Harga aset memang bisa kembali pulih.
Namun, masalah muncul ketika satu-satunya alasan untuk tetap bertahan adalah “Saya belum mau rugi.” Jika kondisi fundamental sudah berubah, risiko meningkat, atau alasan awal membeli aset tersebut sudah tidak relevan, keengganan menerima kerugian dapat membuat investor mempertahankan posisi terlalu lama. Dengan kata lain, harga beli masa lalu dapat menjadi jangkar emosional yang membuat keputusan berikutnya kurang objektif.
Bagaimana Bias Perilaku Memengaruhi Keputusan Investasi?
Prospect Theory tidak hanya terlihat ketika investor menjual aset. Bias terhadap keuntungan dan kerugian juga dapat memengaruhi cara investor merespons risiko secara lebih luas.
Investor dapat menjadi terlalu cepat mengamankan keuntungan karena takut hasil yang sudah diperoleh menghilang. Di sisi lain, investor dapat menjadi terlalu defensif ketika risiko pasar meningkat karena pengalaman kerugian sebelumnya masih memengaruhi persepsi mereka.
Investor juga dapat terlalu lama mempertahankan strategi atau aset yang sudah tidak lagi sesuai karena mengubah keputusan terasa seperti mengakui kesalahan. Akibatnya, keputusan investasi bisa lebih banyak dipengaruhi oleh rasa takut, harapan, dan pengalaman masa lalu dibandingkan kondisi pasar saat ini.
Manajemen Risiko Bukan Berarti Menghindari Risiko
Karena kerugian terasa tidak nyaman, investor sering menganggap manajemen risiko sebagai upaya untuk menghindari kerugian sepenuhnya. Padahal, investasi selalu melibatkan risiko. Menghindari seluruh risiko juga dapat berarti menghindari banyak peluang pertumbuhan. Karena itu, tujuan manajemen risiko bukan membuat portofolio tidak pernah mengalami penurunan.
Manajemen risiko membantu membuat keputusan secara lebih terukur. Investor perlu memahami kapan peluang memiliki potensi yang sepadan dengan risikonya, kapan eksposur perlu dikurangi ketika kondisi berubah, dan kapan menunggu justru menjadi keputusan yang lebih baik.
Pendekatan seperti ini membuat keputusan tidak semata-mata bergantung pada apakah pasar sedang naik atau turun. Yang dinilai adalah bagaimana hubungan antara peluang dan risiko berubah dari waktu ke waktu.
Mengapa Proses yang Objektif Menjadi Penting?
Pasar dapat bergerak cepat. Berita geopolitik, perubahan suku bunga, inflasi, laporan keuangan, hingga arus modal dapat mengubah sentimen dalam waktu singkat. Dalam kondisi seperti ini, investor mudah terdorong untuk bereaksi terhadap setiap perubahan harga.
Padahal, terlalu sering bereaksi terhadap pergerakan jangka pendek dapat membuat strategi kehilangan arah. Sebuah proses investasi yang lebih objektif membantu menciptakan disiplin.
Alih-alih bertanya, “Apakah saya takut pasar akan turun?”, pendekatannya bergeser menjadi “Apakah tingkat risiko pasar sudah berubah?”
Alih-alih bertanya, “Apakah saya harus menjual karena sudah untung?”, pertanyaannya menjadi “Apakah peluang dan risiko investasi ini masih sesuai dengan strategi?”
Perubahan cara berpikir tersebut membantu memisahkan keputusan investasi dari emosi sesaat.
Bagaimana KayaSmart+ Membantu Menjaga Disiplin Investasi
KayaSmart+ menggunakan pendekatan pengelolaan portofolio yang dinamis dan berbasis data untuk membantu menyesuaikan alokasi dengan perubahan kondisi pasar. Pendekatan ini dirancang agar keputusan portofolio tidak hanya bergantung pada respons emosional terhadap keuntungan atau kerugian jangka pendek.
Ketika kondisi pasar berubah, eksposur dapat dievaluasi kembali berdasarkan perkembangan risiko dan peluang yang teridentifikasi. Artinya, strategi tidak harus selalu berada dalam posisi agresif ataupun selalu defensif. Tujuannya adalah menjaga proses pengambilan keputusan tetap terukur: mengambil peluang ketika kondisi mendukung, mengelola risiko ketika diperlukan, dan mempertahankan fleksibilitas ketika sinyal pasar belum cukup kuat.
Pasar Akan Menguji Investor, Disiplin Menentukan Responsnya
Keuntungan dan kerugian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari investasi. Namun, cara investor merespons keduanya dapat memiliki dampak besar terhadap perjalanan portofolio.
Prospect Theory menunjukkan bahwa keputusan finansial tidak selalu sepenuhnya rasional. Kerugian dapat terasa lebih berat daripada keuntungan, sehingga investor berisiko menjual terlalu cepat ketika untung, bertahan terlalu lama ketika rugi, atau mengubah strategi berdasarkan emosi.
Karena itu, investasi bukan hanya tentang menemukan aset yang berpotensi naik. Disiplin dalam mengambil keputusan dan mengelola risiko juga menjadi bagian penting dari proses. Pasar akan selalu menguji investor. Strategi yang terukur membantu memastikan bahwa emosi tidak mengambil alih keputusan.
DISCLAIMER: Informasi yang disediakan oleh PT. Kaya Lautan Permata (Kaya) memberikan pandangan dan analisis tentang berbagai topik keuangan. Meskipun kami berusaha memberikan informasi yang akurat dan terkini, semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pribadi Anda. Harap dicatat bahwa semua investasi memiliki potensi risiko, dan setiap keputusan investasi yang Anda buat adalah atas kebijaksanaan dan risiko pribadi Anda sendiri.