Risiko Global Meningkat, Pasar Saham dan Obligasi Indonesia Kembali Tertekan

Diterbitkan pada
Market Outlook | 26 Oktober – 2 November 2026
Pasar keuangan global kembali menghadapi tekanan akibat kekhawatiran terhadap profitabilitas investasi AI, inflasi yang masih tinggi, dan meningkatnya risiko geopolitik. Di Indonesia, pelemahan IHSG, tekanan jual asing, dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah semakin memperbesar ketidakpastian pasar.
Pasar Global: Profitabilitas AI dan Inflasi Menekan Sentimen
Kinerja perusahaan teknologi besar menunjukkan hasil beragam, sementara belanja modal gabungan pada kuartal III mencapai rekor US$201,9 miliar. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai kemampuan investasi AI menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan.
Di sisi lain, The Fed mempertahankan suku bunga pada 3,75%–4,00% dengan sikap hawkish. Inflasi PCE September meningkat menjadi 3,6% YoY, sementara harga minyak Brent melampaui US$115 per barel akibat ketegangan di Selat Hormuz.
Kombinasi suku bunga tinggi, tekanan energi, dan ketidakpastian profitabilitas AI terus membatasi penguatan pasar saham global, meskipun pertumbuhan ekonomi AS masih solid.
Pasar Saham Indonesia: IHSG Melemah 7,03% di Tengah Tekanan Asing
IHSG kembali turun 7,03% ke level 5.075, seiring berlanjutnya tekanan jual investor asing pada saham berkapitalisasi besar. Rupiah juga melemah hingga sekitar Rp18.183 per dolar AS.
Kekhawatiran terhadap potensi reklasifikasi MSCI dari Emerging Market menjadi Standalone Market masih membayangi pasar, terutama terkait transparansi kepemilikan saham, kualitas free float, dan integritas pasar.
Meskipun OJK dan BEI memperkuat pengawasan serta reformasi pasar modal, pemulihan berkelanjutan masih membutuhkan implementasi regulasi yang kredibel, stabilitas rupiah, dan kembalinya kepercayaan investor asing.
Pasar Obligasi Indonesia: Yield Melonjak ke Level Tertinggi dalam Enam Tahun
Pasar obligasi pemerintah juga menghadapi tekanan signifikan. Lelang SUN pada 27 Oktober hanya mencatatkan penawaran Rp31,09 triliun, turun 52% dibandingkan lelang sebelumnya, mencerminkan melemahnya permintaan investor.
Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun melonjak menjadi 7,71%, tertinggi dalam enam tahun. Pelemahan rupiah dan arus keluar modal asing turut meningkatkan premi risiko serta biaya pembiayaan pemerintah.
Meskipun Bank Indonesia melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas pasar, tekanan nilai tukar dan tingginya yield global masih membatasi prospek pemulihan harga obligasi.
Market Outlook: Stabilitas Pasar Menjadi Faktor Penentu
Pasar global masih menghadapi risiko dari inflasi, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian imbal hasil investasi AI.
Di Indonesia, tekanan jual asing, pelemahan rupiah, dan persoalan tata kelola pasar terus membebani saham, sementara kenaikan yield obligasi mencerminkan meningkatnya risiko pembiayaan.
Ke depan, stabilitas rupiah, pemulihan arus modal asing, dan kemajuan reformasi pasar modal akan menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan investor serta mendukung pemulihan pasar keuangan Indonesia.
DISCLAIMER: Informasi yang disediakan oleh PT. Kaya Lautan Permata (Kaya) memberikan pandangan dan analisis tentang berbagai topik keuangan. Meskipun kami berusaha memberikan informasi yang akurat dan terkini, semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pribadi Anda. Harap dicatat bahwa semua investasi memiliki potensi risiko, dan setiap keputusan investasi yang Anda buat adalah atas kebijaksanaan dan risiko pribadi Anda sendiri.