IHSG Rebound 4,9%, tetapi Tekanan Jual Asing Masih Membayangi

Diterbitkan pada
Market Outlook | 20–26 Oktober 2026
Pasar keuangan global mulai mendapatkan sentimen positif dari penurunan imbal hasil obligasi AS dan meredanya kekhawatiran geopolitik dalam jangka pendek. Namun, harga minyak yang masih tinggi dan ketidakpastian kebijakan moneter tetap menjadi tantangan.
Di Indonesia, IHSG mencatatkan pemulihan setelah koreksi tajam akibat peringatan MSCI. Meski demikian, tekanan jual asing dan pelemahan rupiah menunjukkan bahwa kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih.
Pasar Global: Yield AS Menurun, tetapi Risiko Inflasi Masih Tinggi
Harga minyak Brent bertahan di sekitar US$115 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah. Meskipun kekhawatiran terhadap serangan langsung AS ke Iran sempat mereda, risiko gangguan pasokan energi masih membayangi prospek inflasi global.
Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun turun ke bawah 5%, memberikan ruang bagi saham berbasis pertumbuhan. Namun, perhatian investor tetap tertuju pada pertemuan Federal Reserve pada 27–28 Oktober dan data inflasi PCE yang akan memengaruhi ekspektasi arah suku bunga.
Di sektor teknologi, laporan keuangan perusahaan besar menjadi perhatian utama untuk menilai apakah investasi AI yang masif mampu menghasilkan pertumbuhan laba berkelanjutan. Hasil yang mengecewakan berpotensi memicu koreksi, terutama karena penguatan pasar masih terkonsentrasi pada saham teknologi berkapitalisasi besar.
Pasar Saham Indonesia: IHSG Rebound, tetapi Arus Keluar Asing Berlanjut
Setelah mengalami koreksi tajam akibat potensi reklasifikasi MSCI, IHSG menguat 4,9% ke level 5.439,25 pada pekan perdagangan yang berakhir 23 Oktober 2026.
Namun, pemulihan tersebut belum diikuti kembalinya arus modal asing. Akumulasi penjualan bersih investor asing mencapai Rp94,87 triliun sepanjang 2026 hingga 23 Oktober, menunjukkan bahwa sentimen terhadap pasar saham domestik masih rapuh.
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75%, sekaligus menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00% dan mengumumkan penurunan Giro Wajib Minimum secara bertahap untuk mendukung likuiditas perbankan.
Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas rupiah dan mendukung kondisi likuiditas domestik. Namun, keberlanjutan pemulihan pasar saham masih bergantung pada implementasi reformasi pasar modal, stabilitas nilai tukar, dan kembalinya kepercayaan investor asing.
Pasar Obligasi Indonesia: Yield Tinggi di Tengah Ketidakpastian
Pasar obligasi pemerintah Indonesia masih menghadapi tekanan akibat tingginya imbal hasil global, pelemahan rupiah, dan kekhawatiran terhadap arus modal asing.
Yield SUN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,4%, mencerminkan meningkatnya premi risiko di pasar obligasi domestik.
Di sisi lain, kebijakan Bank Indonesia untuk meningkatkan likuiditas perbankan berpotensi mendukung permintaan Surat Berharga Negara (SBN). Namun, tekanan nilai tukar dan ketidakpastian arus modal asing masih membatasi potensi penguatan harga obligasi dalam jangka pendek.
Market Outlook: Pemulihan Pasar Masih Membutuhkan Konfirmasi
Secara global, penurunan yield obligasi AS memberikan sentimen positif, tetapi harga minyak yang tinggi, risiko inflasi, dan ketidakpastian kebijakan The Fed masih membatasi optimisme pasar.
Di Indonesia, rebound IHSG menunjukkan adanya peluang pemulihan setelah koreksi tajam. Namun, tekanan jual asing dan persoalan tata kelola pasar masih menjadi tantangan utama. Sementara itu, pasar obligasi menawarkan imbal hasil menarik, meskipun risiko nilai tukar dan kondisi global tetap perlu diperhatikan.
Ke depan, stabilitas rupiah, perbaikan arus modal asing, dan implementasi reformasi pasar modal akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan pemulihan pasar Indonesia.
DISCLAIMER: Informasi yang disediakan oleh PT. Kaya Lautan Permata (Kaya) memberikan pandangan dan analisis tentang berbagai topik keuangan. Meskipun kami berusaha memberikan informasi yang akurat dan terkini, semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pribadi Anda. Harap dicatat bahwa semua investasi memiliki potensi risiko, dan setiap keputusan investasi yang Anda buat adalah atas kebijaksanaan dan risiko pribadi Anda sendiri.